SEJENAK KITA BERPIKIR…………………

Telah kita beberapa waktu yang lalu pelantikan dari presiden terpilih Amerika Serikat, Barack Husein Obama. Beberapa kejadian yang sangat memukau muncul dihadapan kita semua, yang kesemuanya rasanya kurang lazim didapati di Negara kita.
Apresiasi dan pengharapan yang sangat besar ditujukan kepada presiden terpilih. Terlihat dari antusiasme warga di Washington DC menyambut, bersorak terhadap presiden terpilih mereka yang tak lama kemudian mengucapkan sumpah jabatan sebagai bukti keabsahan dan janji mereka untuk Amerika.
Melihat kejadian ini saya teringan dengan kejadian kurang lebih lima tahun yang lalu ketika presiden kita SBY-JK terpilih sebagai presiden, beragam harapan disandarkan untuk kemajuan Indonesia walaupun dalam perjalanan kepemerintahan mereka berbagai hujatan, celaan dan nada pesimistis kerap menerpa mereka. Hingga akhirnya muncul pemberitaan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap mereka berdua (walaupun belum terbukti kebenaran berita itu). Lantas, apakah ini akan terjadi pada kepemerintahan Barry?kita lihat saja nanti…..
Hal lain yang menjadi sorotan adalah sifat dari acara inagurasi Presiden Barack Obama yang begitu terbuka untuk umum, dilaksanakan di tempat terbuka dan tentunya tetap dengan pengamanan yang ketat. Bila dikritisi lebih dalam hal ini merepresentasikan bahwa presiden mereka adalah milik warga Amerika sepenuhnya.
Acara inagurasi pun berjalan santai tapi tetap formal sehingga tanpa meninggalkan kekhidmatannya. Nuansa pencerahan atas presiden baru terhadap warga Amerika tetap berjalan dengan baik dan memukau warga Amerika bahkan dunia. Sedikit lebih berani, bila dibandingkan dengan dengan pelantikan Kepala Negara di Negara kita yang sangat tertutup di Gedung MPR dan hanya disaksikan kalangan wakil rakyat dan yang terkait. Masyarakat pun hanya bisa mengakses lewat layar kaca. Terasa sekali adanya ketimpangan, bahkan terjadi pertanyaan “Presiden milik siapa ya?? Rakyat atau wakil rakyat dan kalangan tertentu saja ??”
DI bagian lain acara tersebut, terdapat hal yang sangat menggelitik rasa kemanusiaan dalam diri kita mengenai sifat keakraban (yang mungkin lebih pas apabila dikatakan dengan kekeluargaan) dari para mantan presiden dan wakil presiden Amerika Serikat. Keakraban yang terjalin begitu tulus dan hangat walaupun mereka berbeda partai dan tentunya pernah terjadi intrik-intrik persaingan dalam diri mereka satu sama lain. Semua yang terjadi di masa lalu tidak mempengaruhi keakraban mereka layaknya mereka bereuni seperti sahabat yang lama tidak bersua.
Bila ditilik lebih dalam akan timbul pertanyaan dalam hati kita, “apakah hal seperti itu sudah terjadi di kalangan elite pemimpin kita?”.tentunya tanpa ditunggu lama akan segera terjawab TIDAK. Bukanya saling berkumpul bersama membicarakan persoalan bangsa malahan mereka saling menjatuhkan, bersaing dan menjelekan tanpa peduli masalah rakyat. Seolah-olah mereka peduli kepentingan rakyat tetapi sejatinya kepentingan golongan dan kelompoknya yang diutamakan. Elite pemimpin kita tidak mengajarkan jiwa besar pada rakyatnya dengan sikap=sikap mereka selama ini. Kita bias melihat hubungan SBY-JK dengan Megawati sebagai contoh dari sikap tidak mempunyai jiwa besar dari seorang pemimpin bangsa. Rasanya mental kita belum siap seperti dengan para pemimpin-pemimpin Negara Amerika.
Singkatnya para pemimpin Mareika berprinsip “All for America Although different on them” lantas apakah elite pemimpin bangsa kita bias berprinsip All for Indonesia Although Different .
Wallahu alam bishawab.